... isu Epstein tampaknya akan terus mengganggu Trump dan sangat mungkin akan terus digoreng oleh musuh-musuh politiknya.
Jakarta (KABARIN) - Jeffrey Esptein adalah pemodal Amerika Serikat yang memiliki koneksi orang-orang sangat berkuasa di dunia. Dia juga penjahat seks anak, pemerkosa berantai, dan pelaku perdagangan manusia.
Polisi pertama kali menyelidikinya pada 2005 setelah satu keluarga melaporkan pelecehan seksual terhadap anak mereka yang berusia 14 tahun. Setelah itu, keluarga-keluarga lain melaporkan hal yang sama.
Tiga tahun kemudian, pada 2008, Epstein divonis bersalah oleh Pengadilan Negeri Florida atas kasus pelacuran. Dia dijatuhi hukuman tergolong ringan, 18 bulan penjara, yang itu pun tak sepenuhnya dia jalani.
Sepuluh tahun setelah Epstein tuntas menjalani hukuman, FBI menyelidiki lagi kasusnya pada 2018. Dia ditahan pada 2019, lalu mati bunuh diri dalam tahanan tahun itu juga.
Sejak kabar kematian Epstein yang dianggap ganjil dan misterius oleh sejumlah kalangan, kasus Epstein malah membesar, terutama karena investigasi pihak berwajib AS menunjukkan adanya jejaring koneksi yang melibatkan orang-orang sangat berkuasa, termasuk Donald Trump, yang kini presiden Amerika Serikat.
Sewaktu kampanye untuk Pemilu 2024 Trump telah berjanji akan merilis arsip-arsip kejahatan Epstein.
Tapi hampir setahun, Trump belum juga memenuhi janjinya, sampai Wall Street Journal pada Juli 2025 mempublikasikan album kumpulan ucapan ulang tahun ke-50 untuk Epstein dari sejumlah tokoh dunia (termasuk Trump). Album itu bertahun 2003 saat Epstein genap berusia 50 tahun.
Trump lalu menggugat Wall Street Journal. Justru dari situ bola semakin liar. Dua bulan kemudian pada September 2025, Komisi Pengawasan dan Reformasi Pemerintahan pada DPR AS, merilis album itu ke publik.
Setelah itu tekanan politik terhadap Trump membesar, termasuk dari kolega-koleganya di Partai Republik, sampai dia terpaksa menandatangani UU Transparansi Arsip Epstein pada November 2025.
UU itu memberi wewenang kepada Kejaksaan Agung AS untuk merilis dokumen, rekaman, dan arsip-arsip berkaitan dengan Epstein.
Arsip itu baru dikeluarkan Januari tahun ini, tak lama setelah AS menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan di tengah situasi panas dengan Iran.
Dimensi moral
Tulisan ini tak akan membahas kasus Epstein yang memang menyeramkan, penuh intrik, berdimensi moral dan memicu teori konspirasi liar tentang elite global itu, melainkan mencoba memadankannya dengan langkah-langkah Trump belakangan ini.
Berbagai kalangan menilai aneh terhadap manuver global Trump belakangan ini; mulai dari menculik Nicolas Maduro, mengusik Greenland, sampai memprovokasi Iran untuk berperang.
Sidney Morning Herald bahkan menyebut langkah-langkah Trump itu sebagai "pengalihan isu" laksana dalam skenario film produksi 1997 yang dibintangi Dustin Hoffman dan Robert de Niro, "Wag the Dog".
Trump sendiri memang terlihat berusaha mengalihkan perhatian publik dari kasus Esptein, terutama karena kasus ini kental dengan dimensi moral dan etika yang bisa menjadi alasan lawan untuk menjatuhkan Trump.
Trump pun melakukan hal yang dulu dilakukan Bill Clinton ketika membom Afghanistan dan Sudan pada Agustus 1998 saat perhatian publik AS tersedot kepada skandal seks dengan Monica Lewensksy, yang memicu sidang pemakzulan Clinton pada tahun itu.
Kenyataan Trump berkawan atau setidaknya pernah berkawan dengan Epstein yang dikenal penjahat seks, perudapaksa dan pencabul gadis di bawah umur, tak saja memalukan tapi juga menguak moralitas seorang pemimpin politik AS.
Dimensi itu pula yang membuat pemerintahan Perdana Menteri Keir Stammer di Inggris terguncang, karena Stammer memajukan koleganya, Peter Mendelson, sebagai duta besar Inggris di AS, ketika nama Mendelson sudah disinggung dalam penyelidikan AS tentang Epstein. Diketahui kemudian Mendelson ternyata membocorkan rahasia negara kepada Epstein.
Mendelson telah mundur, tapi pemerintahan Stammer belum lepas dari belitan krisis kepercayaan.
Di lain tempat, nama-nama besar seperti Bill Clinton dan Bill Gates, serentak meminta maaf dan menyesal telah berasosiasi dengan Epstein. Yang lain yang masih aktif memiliki jabatan publik, membarengi ucapan maaf itu dengan mengundurkan diri dari jabatan mereka.
Akan halnya Trump, dia mengaku sudah tak lagi berkomunikasi dengan Epstein sejak 2004. Tapi jejak masa silam Epstein adalah satu hal yang tampaknya sulit termaafkan dalam sistem moral AS. Dari jejak itu Trump diketahui memang berteman atau pernah berteman dengan Epstein, si predator seks.
Jejak masa silam itu kini menghantui Trump. Dia mungkin tak menyangka Epstenin memiliki jejaring sosial begitu luas sehingga banyak orang seperti dirinya tersandera oleh kasus Epstein.
Trump juga tahu skala kerusakan politik jika perhatian publik dibiarkan terus tertuju kepada kasus Epstein.
Untuk itu perlu ada pengalihan isu, dan Nicolas Maduro di Venezuela menjadi sasaran pertamanya, dengan dalih imigran gelap dan narkoterorisme.
Hantu pemakzulan
Salah satu kesalahan Maduro adalah dia bukan sekutu AS seperti Presiden Kolombia dan Presiden Meksiko, padahal masalah imigran gelap dan narkotika selama ini lebih sering dilekatkan kepada Meksiko dan Kolombia. Dalam kata lain, Maduro sama sekali bukan ancaman untuk AS.
Selesai dengan Maduro, Trump membesarkan lagi amplitudo serangan verbalnya terhadap Denmark dan Eropa, bahwa Greenland seharusnya milik AS. Tak jelas apa keinginan Trump sebenarnya, selain mungkin mencari sensasi untuk mengalihkan perhatian publik domestik dari isu besar nan memalukan, dan itu bisa jadi kasus Epstein.
Tatkala isu Greenland meredup, dia mengalihkan perhatian ke Iran. Dengan dalih bendel tak segera menyepakati perjanjian nuklir, dia mengerahkan armada perangnya ke Teluk Persia untuk menggertak Iran sampai-sampai dunia kalut membayangkan pecahnya perang besar di Timur Tengah.
Situasi makin pelik karena Trump juga dihadapkan pada ekonomi AS yang tidak tumbuh pesat seperti diinginkannya, walau sudah agresif melancarkan perang tarif, terutama dengan China.
Perilaku aparat keamanannya di sejumlah daerah, termasuk Minnesota, dalam memburu imigran gelap, kian memperburuk posisi politik Trump.
Protes muncul di dalam negeri AS setelah dua warga tewas di tangan agen-agen keamanan perbatasan dan imigrasi (ICE).
Tapi sepertinya adalah "hantu" isu Epstein yang bisa sangat mengguncang Trump, ketika kolega-koleganya di Partai Republik tengah menghadapi Pemilu Sela pada November 2026.
Trump khawatir Demokrat memenangkan Pemilu Sela 2026 karena jika ini sampai terjadi, maka peta politik di dewan legislatif akan berubah dikuasai Demokrat.
Jika sampai hal itu terjadi, maka Trump bakal diganggu oleh legislatif, termasuk oleh pemakzulan seperti dia alami pada masa pemerintahan pertamanya.
Demokrat sendiri tak menyembunyikan niat memakzulkan Trump. Dan salah satu alasan yang mungkin mereka pakai nanti adalah kasus Esptein.
Oleh karena itu, isu Epstein tampaknya akan terus mengganggu Trump dan sangat mungkin akan terus digoreng oleh musuh-musuh politiknya.
Dan semakin publik ditarik kepada isu itu, semakin keras Trump mengalihkan perhatian publik.
Salah satu bentuk pengalihan itu adalah meletupkan konflik di luar negeri atau bahkan menawarkan prakarsa diplomatik yang terlihat langgeng dan baik untuk stabilitas dunia tapi sebenarnya hanya manuver jangka pendek guna memicu apresiasi publik domestik dan menaikkan popularitas di dalam negeri.